Fenomena Mukbang: Dari Hiburan Makan Bersama hingga Kontroversi Kesehatan Global di 2026

Paoy Paet, 18 Maret 2026 – Mukbang, kata yang berasal dari bahasa Korea yang merupakan gabungan dari “muk-ja” (makan) dan “bang-song” (siaran), telah menjadi salah satu tren konten paling populer di dunia digital selama lebih dari satu dekade. Awalnya muncul di Korea Selatan sekitar tahun 2010 sebagai cara untuk menemani orang yang makan sendirian, kini mukbang telah berevolusi menjadi industri raksasa di YouTube, TikTok, dan platform streaming lainnya—termasuk di Indonesia yang kini dipenuhi konten mukbang makanan viral seperti seblak samyang, ayam bledek, bakso jumbo, hingga menu-menu pedas mampus.

hongkong togel 

Asal-usul dan Ledakan Popularitas Mukbang pertama kali booming di platform AfreecaTV Korea, di mana para “BJ” (broadcast jockey) makan sambil mengobrol dengan penonton secara live. Konsep sederhana ini menawarkan rasa kebersamaan bagi banyak orang yang hidup sendiri atau merasa kesepian. Pada pertengahan 2010-an, mukbang menyebar ke seluruh dunia melalui YouTube, dan kini di 2025–2026, hampir seluruh internet terasa seperti “mukbang”: dari review makanan viral di TikTok Indonesia hingga eating show ekstrem di Barat.

Di Indonesia sendiri, mukbang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya kuliner online. Kreator lokal kerap mengangkat makanan kekinian seperti mie Gacoan carbonara, cireng jumbo isi ayam suir pedas, hingga street food legendaris seperti luwak di Quiapo (yang juga viral di komunitas mukbang Filipina-Indonesia). Banyak penonton merasa puas hanya dengan menonton suara ASMR mengunyah, crunch, dan slurp—tanpa harus makan sendiri.

Sisi Gelap yang Semakin Terkuak Namun di balik jutaan view dan pendapatan sponsor, mukbang menuai kritik keras dari pakar kesehatan. Pada 2025–2026, berbagai laporan menyebut tren ini semakin bermasalah:

  • Risiko kesehatan bagi kreator — Beberapa kasus tragis pernah terjadi, termasuk kematian influencer muda akibat overeating ekstrem. Tekanan untuk terus memproduksi konten “lebih besar, lebih pedas, lebih cepat” membuat banyak kreator mengorbankan kesehatan.
  • Pengaruh buruk pada penonton — Dietisien memperingatkan bahwa video mukbang ekstrem (terutama yang menampilkan junk food dalam jumlah raksasa) bisa memicu pola makan tidak sehat, gangguan makan, atau bahkan sebaliknya—membuat orang menahan makan karena merasa “puas secara visual”.
  • Kontroversi etis — Ada tuduhan banyak mukbanger yang diam-diam memuntahkan makanan setelah rekaman (untuk menjaga berat badan), konsumsi hewan hidup (seperti gurita atau cumi hidup yang menuai kemarahan aktivis hewan), serta kaitannya dengan subkultur “feederism” di platform seperti OnlyFans.

Di Korea Selatan sendiri, popularitas mukbang dilaporkan mulai menurun pada 2025 karena kontroversi tersebut, ditambah regulasi pemerintah terkait obesitas dan konten berbahaya. Beberapa kreator top bahkan sempat hiatus akibat skandal kesehatan atau hukum.

Masa Depan Mukbang di Era 2026 Meski menuai kontroversi, mukbang tidak sepenuhnya hilang. Banyak kreator beralih ke format yang lebih sehat: mukbang makanan bergizi, porsi normal, atau fokus pada cerita kuliner dan budaya. Di Indonesia, tren ini justru semakin hidup dengan konten lokal yang menggabungkan ASMR, review makanan viral, dan interaksi hangat dengan penonton.

Bagi penonton, pesannya sederhana: nikmati mukbang sebagai hiburan, tapi jangan jadikan standar pola makan sehari-hari. Seperti kata seorang ahli gizi: “Menonton orang makan bisa menyenangkan, tapi tubuhmu tahu apa yang terbaik untuk dirinya sendiri.”